Sabtu, 16 Januari 2016

💌 Mengabadikan Diri
Setiap orang menginginkan keabadian. Sadar atau tidak, kita tidak ingin melepaskan apa yang pernah kita miliki. Nikmat misalnya, kita tak akan pernah merasa memiliki sampai benar-benar nikmat itu pergi.
Ada yang mengabadikan dirinya lewat jepretan foto selfiannya. Adapula dengan popularitas, menyangka bahwa setelah nanti masih ada pemujinya. Ada dengan harta, sedari sekarang terus berderma membangun citra. Ada dengan kekuasaan, sehingga setiap peresmianbenda negara selalu tertulis nama dan tanda tangannya.
Tapi semua itu semu. Kekayaan akan kadaluarsa. Jabatan segera pensiun. Bangunan-bangunan itu diruntuh waktu. Para penulis sejarah lupa lantaran kepentingan. Keabadian bukan disitu. Justru kami berfikir keabadian ada pada niat.
“Apa yang hanya karena Allah itulah yang akan abadi” sebut Imam Malik.
Bahwa kuburan orang-orang hebat bukanlah di taman makam pahlawan. Atau di museum jantung Kota. Tugu Nasional apalagi.
“Ada di hati dan lisan para manusia.”
Aku ingin mengabadikan hati bersamamu yaa Rabb. Menjadi niat yang selalu dihidupkan. Menjadi barisan kata yang selalu diamalkan, BAPER misalnya, Barisan Para Pengikut Rasu yang Menjadi amal yang akan terus membersamai. sekalipun sudah tiada nantinya.
“Semoga Allah selalu menjadi yang pertama. Bahwa niat menjadi tujuan. Sementara perjuangan adalah jalan.”
*Msc
والله أعلمُ بالـصـواب

Tidak ada komentar:

Posting Komentar