Rabu, 03 Februari 2016

valentine-no-way

Valentine’s Day, Legenda yang Mengoyak Aqidah dan Kehormatan

بسم الله الرحمن الرحيم
Alhamdulillah wassholatu wassalamu ‘ala rasulillah nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in.
Saya sebenarnya tak ingin terlalu menyibukkan diri dengan asal-usul masalah yang satu ini, toh sudah banyak tulisan dan wejangan mengenainya dari mereka yang menolak ataupun yang mendukungnya. Namun akhir-akhir ini apa yang kita saksikan di tengah masyarakat semakin menghkawatirkan. Akan seperti apa masyarakat kita kelak bila dipimpin calon pemimpin masa depan yang usia mudanya telah rusak poranda karena dicecoki budaya barat. Mulai dari ucapan happy valentine’s day, selamat hari kasih sayang, saling memberi hadiah bunga, cokelat dan sebagainya telah menjadi kebiasaan anak-anak muda kita setiap memasuki bulan Februari.
Mirisnya adalah karena hal ini terjadi setiap tahun, ditambah lagi sikap sebahagian orang tak bertanggung jawab yang memanfaatkan peluang berupa sikap latah masyarakat guna meraup untung sebanyak-banyaknya. Dibuatlah bingkisan-bingkisan khusus dan aneh yang semakin menambah kekhawatiran kita. Oleh karena itu saya tergerak untuk menyampaikan penjelasan dengan menilik kembali asal-usul dari valentine’s day.
Sumber terpercaya menyebutkan bahwa asal kisah valentine’s day itu sebenarnya masih dipertanyakan oleh banyak sejarawan. Sebahagian mengatakan bahwa hari yang dikenal sebagai hari kasih sayang itu merupakan proyeksi dari keyakinan yang sudah ada sejak zaman dahulu kala. Menurut sejarah kalender Athena kuno, periode antara pertengahan bulan Januari sampai pertengahan Februari adalah bulan Gamelion yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera.Di Roma kuno, 15 Februari dikenal sebagai hari Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus atau Dewa Kesuburan yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing.
Berbeda dengan hari Lupercalia, menurut Ensiklopedia Katolik 1908, kata Valentine berasal dari kisah seorang martir atau santo (orang suci) yang bernama Valentinus, namun penentuan orangnya ada 3 versi :
1. Seorang pastor di kota Roma.
2. Seorang uskup di Interamna.
3. Seorang martir di Provinsi Romawi Africa.
Hubungan antara ketiga versi di atas dengan hari kasih sayang sebenarnya tidak jelas. Bahkan Paus Gelasius I menyatakan bahwa tak ada yang mengetahui tentang ketiga martir tersebut, namun 14 Februari tetap dijadikan sebagai hari raya bagi penganut agama ini untuk mengenang Santo Valentinus. Ada yang berpendapat bahwa 14 Februari sengaja ditetapkan sebagai hari Valentine’s untuk menandingi hari Lupercalia pada tanggal 15 Februari esok harinya.
Barulah pada abad ke-14 di Inggris dan Perancis, catatan pertama dihubungkannya hari raya Santo Valentinus dengan cinta romantis dan kasih sayang, di mana pada tanggal tersebut (14 Februari) dipercayai adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Kepercayaan ini ditulis pada karya seorang sastrawan Inggris pertengahan bernama Geoffrey Chaucer. Ia menulis di cerita Parlement of Foules (Percakapan Burung-Burung) bahwa;
For this was sent on Seynt Valentyne’s day”
When every foul cometh there to choose his mate”
Untuk inilah dikirim pada hari Santo Valentinus”
Saat semua burung datang ke sana untuk memilih pasangannya”
Pada zaman itu bagi para kekasih lazim bertukaran catatan pada hari ini dan memanggil pasangan mereka sebagai “Valentine” mereka. Kemungkinan besar banyak legenda-legenda mengenai Santo Valentinus diciptakan pada zaman ini. Beberapa di antaranya bercerita bahwa:
￿ Sore hari sebelum Santo Valentinus akan gugur sebagai martir (orang suci dalam ajaran Katolik), ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis, “Dari Valentinusmu”.
 Ketika serdadu Romawi dilarang menikah oleh Kaisar Claudius II, Santo Valentinus secara rahasia membantu menikahkan mereka. Pada kebanyakan versi legenda-legenda ini, 14 Februari dihubungkan dengan keguguran sebagai martir.
Kesimpulan yang saya dapatkan bahwa valentine’s day ini tidak memiliki dasar sejarah yang jelas, yang ada hanyalah kisah-kisah dongeng atau legenda yang diceritakan untuk melegalkan sebuah perayaan tertentu. Terlepas benar atau tidaknya, sebagai seorang muslim yang baik seharusnya tidak ikut-ikutan terhadap budaya atau adat dan perayaan orang-orang yang berbeda keyakinannya dengan kita. Sebagai contoh bila orang-orang tersebut meyakini free sex dan legalnya hal tersebut, maka tidak boleh kita menerimanya bulat-bulat meskipun keyakinan mereka takkan mungkin disodorkan kepada kita tanpa bungkus dan penutup penghias mata dan telinga.
Hari valentine’s ini misalnya, hari raya bagi mereka yang katanya ingin meluapkan kasih sayangnya kepada sang kekasih, namun kenyataannya ia merupakan salah satu cara untuk melegalkan keyakinan free sex mereka. Dan masih sangat banyak kerusakan yang terangkum dalam valentine day, seperti tabdziir (menyia-nyiakan) harta dan waktu untuk mengadakan perayaan hari valentine dengan bermacam pelanggaran dan kemungkaran lainnya.
1. Valentine’s day merusak aqidah seorang muslim.
Bagaimana tidak? Seorang muslim yang seharusnya merasa bangga dengan agama yang dianutnya, justru latah mengikuti budaya dan kebiasaan rusak dari barat. Bahkan tidak hanya budaya, kalau kita menyimak baik-baik penjelasan di atas, ternyata diantara sebab munculnya valentine’s day adalah kisah meninggalnya seorang martir atau santo yang beragama Kristen katolik yang jelas berbeda agama dengan kita. Lantas apakah pantas seorang muslim merayakan hari kematian seorang yang kafir kepada Allah? Tidak hanya itu, di dalam agama kita sendiri, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman di dalam Alquran Artinya: demikianlah perintah Allah, dan barangsiapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya hal itu berasal dari ketakwaan hati.[1]
Pemahaman kebalikannya dari ayat ini, bahwa siapa yang tidak mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah apalagi –na’udzu billah min dzalik- meninggalkan syi’arNya maka hal itu berasal dari rusaknya hati yang bisa berujung kefasikan, kemunafikan atau kekufuran. Dan hal ini telah terjadi di hadapan kita jauh hari sebelum perayaan valentine’s day, ibadah sholat ditinggalkan, ucapan salam yang diajarkan agama Islam perlahan-lahan diganti dengan ucapan-ucapan lain, dan masih banyak lagi syi’ar islam yang ditinggalkan, lalu bagaimana lagi jika telah datang perayaan 14 Februari tersebut?
2. Valentine’s day merusak kehormatan muslim/ah
Para pembaca sekalian pasti sudah mengetahui maksud dari point kedua ini. Anda semuanya telah menyaksikan dan mendengarkan apa yang terjadi pada valentine’s day. Kehormatan dan kesucian seorang muslim/ah menjadi rusak dan tercoreng akibat keyakinan dan budaya yang diajarkan oleh barat ini. 
Tidak hanya itu, identitas muslim/muslimah menjadi debu yang bertebaran tatkala datang hari ini. Semua berbondong-bondong membeli hadiah, pemberian, cokelat atau bunga mawar untuk kekasihnya (halal atau haram) di dalam rangkaian hari raya agama Kristen Katolik. Sungguh penjualan identitas massal yang terjadi pada hari itu, agama islam seakan dijontorkan dari hati setiap Pelaku valentine’s day untuk menikmati 1 hari yang akan mendatangkan penyesalan di kemudian hari. Dimanakah mereka dari firman Allah yang berbunyi Artinya: Katakanlah : Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.[2]
Begitu pula dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang seharusnya rasikh/tertanam kuat dalam hati seorang muslim :
مَنْ قَالَ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً وَجَبَتْلَهُ الْجَنَّةُ
Artinya : Barang siapa yang mengucapkan “Aku ridho Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad adalah Rasulku”, maka ia akan masuk syurga.[3]
Juga sabda beliau :
Artinya : Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk kaum tersebut. Diriwayatkan bahwa suatu ketika pada masa kekhilafaan Umar ibn khattab radiyallahu ‘anhu, beliau mendatangi kota Syam bersama Abu ‘ubaidah ibnul jarrah radiyallahu ‘anhu. Sebelum mereka tiba di kota Syam, Umar lalu turun dari unta yang dikendarainya, melepaskan kedua sepatunya dan dijepit di bawah ketiak sembari menuntun unta miliknya. Melihat tingkah sang khalifah, Abu ‘ubaidah lalu berkata “Wahai amirul mukminin Umar, mengapa engkau melakukan hal tersebut(tingkah yang dilakukan Umar radiyallahu ‘anhu), Saya merasa penduduk Syam akan menganggapmu remeh dan hina bila melihatmu 
melakukan hal itu”, lalu Umar radiyallahu ‘anhu kemudian menjawabnya “Aduh, seandainya saja perkataan seperti yang barusan saya dengar tidak berasal darimu wahai Abu ‘ubaidah, maka akan saya balas dengan balasan yang pedih. Sesungguhnya kita ini dahulu adalah ummat yang hina lalu Allah memuliakan kita dengan agama islam, maka dengan cara apapun kita mencari kemuliaan selain agama islam, pasti kita akan tetap menjadi hina.[4]
Sahabat, kemuliaan itu diraih dengan menjadi muslim yang sejati. Agama Islam telah memuliakan anda dan seluruh orang-orang yang beriman. Allah berfirman :
ولِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُون
Artinya : Dan kemuliaan hanyalah milik Allah, RasulNya, dan orang-orang yang beriman, tetapi orang-orang munafiq itu tidak mengetahuinya.[5] Jika saja Umar ibn khattab radiyallahu ‘anhu bersikap keras kepada Abu ‘ubaidah ibnul jarrah atas perkataannya, lalu bisakah anda bayangkan bagaimana sikap Umar terhadap apa yang terjadi hari ini? kaum muslimin mencari kemuliaan dengan mengikuti ajaran selain islam…dan bisakah anda bayangkan bagaimana sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap 
ummatnya yang seperti ini? sungguh akan sangat disayangkan, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan menunggu kita semua pada hari kiamat di telaga beliau untuk meminum air darinya. Ketika ummat beliau telah berdesak-desakan untuk meminum air dari telaga itu, akan terlihat orang-orang yang diusir darinya. Rasulullah kemudian mengatakan “Duhai Allah, Duhai Rabbku, ummatku..kaumku…lalu dikatakan kepadanya “Wahai Muhammad, sesungguhnya engkau tak mengetahui apa yang diperbuat ummatmu sepeninggalmu”.[6]
Maka bila Anda adalah muslim yang baik saat ini, jagalah keislaman Anda, identitas dunia dan akhirat yang akan meyelamatkan Anda hari ini dan hari akhir kelak. Karena itu, selamatkan diri dengan menjauhi perayaan valentine’s day bagaimanapun bentuknya, karena hari itu legenda Valentinus siap mengoyak banyak aqidah dan kehormatan manusia…Apakah Anda termasuk di dalamnya atau tidak??? Tanda Tanya besar yang akan dibuktikan pada 14 Februari nanti…Sekian.
[1] Surah Al haj 32.
[2] Surah Al an’am 162.
[3] HR Abu dawud 1/562 no.1531 dan dishohihkan oleh Syaikh Al Albany.
[4] HR Al mundziry 4/35 dengan sanad yang shohih.
[5] Surah Al munafiqun 8.
[6] HR Al mundziry 2/25 dengan sanad yang baik.
Oleh : Rachmat Badani Abu AQilah

Senin, 01 Februari 2016

Bencana Cinta Sejenis LGBT

Februari 1, 2016

Bencana Cinta Sejenis
 
Homoseksual  adalah kerusakan moral yang nyata. Jarang sekali ada orang di bumi Indonesia ini yang terang-terangan menyatakan bahwa homoseksual itu wajar. Namun anehnya, baru-baru ini media santer memberitakan akan diadakannya kongres internasional perkumpulan lesbian, gay, biseks, transgender, interseks (ILGA) di Surabaya, walau belakangan acara amoral ini bisa digagalkan oleh berbagai elemen umat. Walhamdulillah.
ILGA (International Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender dan Intersex Association) yang bisa begitu vulgar dan ngotot untuk  mengadakan kongres keempatnya di negeri dengan penduduk muslim terbesar ini, setidaknya memberikan isyarat kepada kita bahwa komunitas sodom ini mulai bangkit untuk mendapatkan legitimasi dan tempat di mata masyarakat atas perbuatan tercelanya. 
Akhir-akhir ini nilai yang dianut masyarakat kita perlahan bergeser. Acara-acara TV yang menampilkan sosok gay semakin menjamur. Mereka muncul untuk “mengangkat” diri, bahwa kaum gay sebagai kaum marginal patut untuk mendapatkan hak-hak layaknya masyarakat yang lain. Karena tayangan yang seperti ini, masyarakat pun mulai terbiasa, bahkan penampilan kaum gay dinilai sebagai hiburan.
Gerakan mereka di Indonesia bukanlah gerakan baru. Pada tahun 1969, di Jakarta berdiri organisasi gay  pertama, Himpunan Wadam Djakarta (HIWAD). Disusul pada tanggal 1 Maret 1982, organisasi gay terbuka pertama di Indonesia dan Asia, Lambda Indonesia berdiri di Solo. Dalam waktu yang tidak lama, terbentuklah cabang-cabangnya di berbagai kota di Indonesia. Untuk menyerukan ide kelompoknya, pada tahun-tahun berikutnya, kaum gay makin banyak mendirikan organisasi dan komunitas-komunitas sodom pengundang murka Allah.
Dengan  dalih hak asasi manusia (HAM) dan pembelaan terhadap kaum minoritas yang terpinggirkan, maka perkawinan sesama jenis ini terus diperjuangkan agar mendapat tempat di masyarakat. Kalangan yang paling banyak memberi dukungan terhadap perilaku disorientasi seksual ini adalah golongan liberal. Bahkan ada buku yang diterbitkan oleh  salah satu institusi agama Islam yang berjudul “Indahnya Nikah Sejenis”, adalah kumpulan artikel Jurnal Justisia Semarang, yang penulisnya adalah seorang mahasiswa Islam. Parahnya sebuah seminar dengan tajuk “Gay Jadi, Kawin Juga Boleh” diadakan oleh salah satu universitas Islam di Jogja. Tidak sampai di situ, pada jurnal  Justisia edisi 2004 dikatakan bahwa kisah kaum Nabi Luth yang diabadikan di dalam al-Qur’an dianggap hanya sekadar story atau mitos. Gay, lesbian dan waria juga bagian dari fitrah manusia, hal itu tidak menyalahi kodrat, melainkan sesuatu yang wajar, natural dan anugerah dari Allah. 
Homoseksual dalam Tinjauan Syari’at 

Dalam istilah Islam, homoseksual lebih dikenal dengan nama "al-Liwâth" yang diambil dari kata "Luth" nama seorang Nabi Allah. Dinisbatkan kepada Nabi Allah tersebut, sebab perbuatan semacam itu dilakukan pertama kali oleh kaumnya. Terkadang juga disebut dengan istilah sodomi, dari nama negri kaum Nabi Luth, Sodom.
Para ulama telah sepakat tentang keharaman homoseksual. Allah Subhaanahu Wa’taala dan rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah mencela dan menghina para pelakunya. 
“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya. ‘Mengapa kalian mengerjakan perbuatan fahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelum kalian? ‘Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kalian ini adalah kaum yang melampui batas.” (QS. Al-A’raf: 80-81).
Kisah kaum Nabi Luth ini menampakkan begitu jelasnya penyimpangan mereka dari fitrah. Hingga  menanggapi apa yang telah mereka lakukan, Nabi Luth mengatakan bahwa perbuatan bejat seperti itu belum pernah dilakukan oleh kaum sebelumnya.
Kenistaan perilaku homoseksual telah mencapai puncak keburukan. Hampir-hampir kita tidak pernah mendapatkan seekor hewan jantan pun yang mengawini hewan jantan lain. Akan tetapi keanehan itu justru terdapat pada manusia yang telah rusak akalnya dan menggunakan akal tersebut untuk berbuat nista.
Maka pantaslah Allah kemudian mengirim malaikatnya untuk membinasakan Kaum Luth. 
“Dan tatkala utusan-utusan Kami (para malaikat) datang kepada Luth, maka ia merasa susah, dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata, “Ini adalah hari yang amat sulit”. Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang keji (homoseksual). Luth berkata, “Hai kaumku inilah putri-putriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertaqwalah kepada Allah, dan kalian jangan mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku. Tidakkah ada di antara kalian orang yang berakal?” Mereka (kaumnya) menjawab, “Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap putri-putrimu; dan sesungguhnya kamu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki”. Luth berkata, “Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (maka aku akan lakukan)”. Para utusan (malaikat) itu berkata, ”Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tak akan mengganggumu, sebab itu pergilah dengan membawa keluargamu, dan pengikut-pengikutmu di akhir malam, dan janganlah ada seorang pun di antara kalian yang tertinggal, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa adzab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?” Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu. Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zholim“ (QS. Huud: 77-82).
Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda akan kekuatiran beliau atas kaum yang menyimpang ini, “Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takutkan atas umatku adalah perbuatan kaum Luth.” (HR. Ahmad, At-Timidzy dan Ibnu Majah. Dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albany). 
Fudhail Ibnu Iyadh berkata, “Andaikan pelaku homoseksual mandi dengan setiap tetesan air langit maka dia akan menjumpai Allah dalam keadaan tidak suci.”
Terdapat riwayat dari Khalid bin al-Walid Radhiyallahu ‘Anhu bahwa ia pernah menemukan di suatu daerah pinggiran perkampungan Arab seorang laki-laki yang menikah dengan sesamanya layaknya menikahi seorang wanita. Maka, ia pun mengabarkan hal itu kepada Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Lalu beliau meminta pendapat para shahabat yang lain, di antaranya ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yang mengambil pendapat yang sangat tegas. Ia mengatakan, "Menurutku, hukumannya dibakar dengan api." Maka Abu Bakar pun mengirimkan balasan kepada Khalid bahwa hukumannya ‘dibakar.’
Sedangkan Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, "Perlu dicari dulu, mana bangunan yang paling tinggi di suatu perkampungan, lalu pelaku homoseks  tersebut dilempar darinya dengan posisi terbalik, kemudian dibarengi dengan lemparan batu ke arahnya."
Kerasnya hukuman tersebut menunjukkan bahwa homoseksual merupakan perbuatan yang sangat nista sebagaimana  dalam suatu hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata bahwa Nabi  Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth. Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth. Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth.” (HR. an-Nasa’i). 
"Siapa saja yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Luth (homoseksual), maka bunuhlah si pelaku dan pasangannya." (Diriwayatkan oleh para penyusun kitab as-Sunan).
Semoga saja masyarakat kita tidak mengalami azab seperti azab yang menimpa kaum Nabi Luth, dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menghujani mereka dengan batu. Tidak tersisa seorang pun melainkan dia terhujani batu tersebut. Hingga kota mereka hanyalah kenangan yang membawa ibrah bagi yang mau berpikir. Allah Ta’ala berfirman, artinya,
“Maka kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras”. (QS. Al-Hijr: 74).
Lalu masihkah homoseksual dianggap merupakan prilaku yang wajar? Padahal Allah telah membebaskan manusia dari berbagai penyakit sosial ini, namun mereka sendirilah yang memilih untuk menyiksa dirinya. Dan memilih menunggu-nunggu datangnya azab yang telah Allah janjikan. wal ‘iyadzu billah. 
Wallahul Musta’an wahuwa Yahdi as-Sabil, [Marzuki Umar] (Buletin Al Fikrah)